Table of Contents
Jabatan Menteri Keuangan (Menkeu) yang selama bertahun-tahun melekat pada nama Sri Mulyani Indrawati resmi berakhir pada awal September 2025. Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan kabinet dan menunjuk Purbaya Yudhi Sadewa sebagai penggantinya.
Pemerintah menegaskan bahwa pergantian tersebut bukan didasari pengunduran diri ataupun pencopotan dalam pengertian personal, melainkan bagian dari hak prerogatif presiden.
“Ya bukan mundur, bukan dicopot. Bapak Presiden selaku kepala negara dan pemerintahan tentunya kita semua paham bahwa beliau memiliki hak prerogatif, maka kemudian atas evaluasi beliau memutuskan untuk melakukan perubahan formasi,” ujar Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Bagi pasar, perubahan figur di pos fiskal strategis itu sempat memicu kegelisahan. Reuters melaporkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah setelah kabar pergantian tersebut. Pelaku pasar menilai Sri Mulyani selama ini dipandang sebagai “penjaga” disiplin fiskal Indonesia.
Namun, di luar dinamika domestik, fase setelah tidak lagi menjabat justru membuka babak baru bagi Sri Mulyani. Ia kembali ke panggung global melalui dunia akademik di Oxford University dan tata kelola filantropi internasional di Gates Foundation.
Pamit dari Kemenkeu: Pesan untuk Institusi dan Permintaan Privasi
Serah terima jabatan Menteri Keuangan dari Sri Mulyani kepada Purbaya Yudhi Sadewa berlangsung pada 9 September 2025. Dalam momen perpisahan dengan jajaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu), ia menyampaikan pesan yang berulang kali ia tekankan sepanjang kariernya di pemerintahan: menjaga keuangan negara sebagai pilar stabilitas dan instrumen keadilan sosial.
“Untuk jajaran Kementerian Keuangan, saya titip untuk terus menjaga keuangan negara dan Kementerian Keuangan sebagai pilar stabilitas dan instrumen yang luar biasa penting untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kesejahteraan masyarakat Indonesia serta kemajuan bangsa,” ujar Sri Mulyani dalam acara tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya profesionalisme dan integritas aparatur negara.
“Jalankan dan lanjutkan tugas dengan amanah, profesional, kompeten, dan jaga selalu integritas. Bantu pimpinan yang baru dan terus melaksanakan tugas dengan dedikasi,” katanya.
Perpisahan itu turut memuat permintaan yang bersifat personal. Sri Mulyani meminta agar ruang privatnya dihormati setelah tak lagi memegang jabatan publik.
Pergantian Menkeu terjadi di tengah situasi sosial-politik yang memanas kala itu. Gelombang protes, kerusuhan, serta insiden penjarahan rumah Sri Mulyani menjadi bagian dari latar dinamika pergantian tersebut.
Oxford: Kembali ke Ruang Kelas dan Mentoring Pemimpin Dunia
Sekitar tiga bulan setelah meninggalkan kabinet, kabar berikutnya datang dari Inggris. Blavatnik School of Government, Oxford University, mengumumkan pada 5 Desember 2025 bahwa Sri Mulyani akan bergabung sebagai World Leaders Fellow untuk tahun 2026.
Program World Leaders Fellowship dirancang bagi para pemimpin global yang tengah bertransisi dari peran kepemimpinan formal menuju tahap berikutnya dalam perjalanan pelayanan publik mereka. Dalam perannya, Sri Mulyani akan terlibat dalam mentoring mahasiswa dan alumni, mengundang pemimpin dunia dalam forum diskusi, serta mengeksplorasi pendekatan inovatif dalam kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Blavatnik School of Government sebagai World Leaders Fellow di Oxford University, sebuah institusi yang menyatukan beragam perspektif untuk merefleksikan kebijakan publik dan tantangan tata kelola yang dihadapi di seluruh dunia,” ujar Sri Mulyani dalam pernyataan yang dikutip dari laman resmi Blavatnik School.
Ia menambahkan, “Saya berharap dapat berkontribusi secara bijaksana kepada komunitas ini, berbagi pengalaman saya sambil terus belajar, dan mendukung generasi pembuat kebijakan berikutnya saat mereka bersiap untuk memimpin dengan integritas, kompetensi, dan martabat dalam lingkungan yang semakin kompleks.”
Dekan pendiri Blavatnik School, Ngaire Woods, menyambut penunjukan tersebut dan menekankan karakter internasional lembaga itu.
“Kami sangat senang Sri Mulyani bergabung dengan Blavatnik School untuk berbagi pengalamannya yang kaya tentang pembuatan kebijakan ekonomi global. Mahasiswa kami berasal dari lebih dari 60 negara,” kata Woods.
Pernyataan Oxford juga mengingatkan rekam jejak Sri Mulyani sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer di World Bank, di mana ia bertanggung jawab atas operasi global lembaga tersebut.
Gates Foundation: Peran Baru di Tata Kelola Filantropi Global
Babak berikutnya dimulai pada Januari 2026. Gates Foundation mengumumkan penunjukan Sri Mulyani sebagai anggota governing board (dewan pengurus) lembaga filantropi tersebut.
Dalam siaran pers tertanggal Senin (12/1/2026), Gates Foundation menyebut Sri Mulyani sebagai ekonom yang dihormati secara global. Lembaga itu menyoroti pengalamannya dalam memimpin reformasi serta kebijakan yang mendorong ketahanan dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
CEO Gates Foundation, Mark Suzman, menilai keahlian Sri Mulyani relevan dengan misi jangka panjang yayasan tersebut.
“Sri Mulyani membawa pengalaman mendalam dalam membentuk hasil ekonomi yang adil, keahlian yang sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang yayasan,” kata Suzman.
Sri Mulyani menyebut keputusan menerima peran tersebut terkait dengan arah strategis Gates Foundation, yang berencana menggunakan dana endowment-nya dalam dua dekade ke depan.
“Dengan waktu 20 tahun untuk memberikan dampak sebesar mungkin, saya merasa terhormat bergabung dengan dewan direksi Gates Foundation untuk berkontribusi pada momen penting yang penuh tantangan dan peluang ini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kesinambungan relasinya dengan yayasan tersebut.
“Kolaborasi saya dengan yayasan ini dimulai hampir satu dekade lalu. Saya sangat termotivasi untuk membawa pengalaman saya di bidang keuangan global, kebijakan ekonomi, dan tata kelola yang baik,” katanya.
Dalam struktur dewan yang diumumkan, Sri Mulyani akan bekerja bersama sejumlah nama, termasuk Bill Gates, Mark Suzman, Ashish Dhawan, Helene Gayle, Strive Masiyiwa, dan Thomas J. Tierney.
Dua Panggung, Satu Benang Merah
Peran Sri Mulyani di Oxford University dan Gates Foundation menunjukkan kesinambungan jalur kariernya. Jika Oxford memberinya ruang untuk refleksi, pembelajaran, dan mentoring pemimpin masa depan, Gates Foundation menempatkannya dalam ranah strategis tata kelola filantropi global.
Keduanya tetap berada dalam orbit yang sama: kebijakan publik, reformasi institusi, dan desain intervensi pembangunan.
Oxford menggambarkan mandat fellowship tersebut sebagai aktivitas yang berfokus pada pembelajaran lintas pemimpin dan eksplorasi pendekatan inovatif dalam pemerintahan. Sementara itu, Gates Foundation menekankan pentingnya perspektif kebijakan ekonomi dan pembangunan dalam arah strategis filantropi global, khususnya ketika yayasan itu menyiapkan horizon spend down endowment hingga 2045.
Bagi Sri Mulyani, babak ini bukan sekadar transisi karier, melainkan pergeseran medan pengabdian—dari ruang fiskal nasional ke forum global, dari kabinet negara ke kelas-kelas kepemimpinan dunia dan meja tata kelola filantropi internasional.


Tinggalkan Balasan